Sunday, October 23, 2011

...

"... belakangan kami mulai tidak dekat, pergi sendiri-sendiri, tidak mengindahkan satu dan lainnya. bahkan kami saling bermain rahasia di belakang. mereka punya teman-teman terbaiknya sendiri, meninggalkanku. aku merasa aneh. menapa hanya aku yang ditinggal? mengapa hanya aku yang merasa kehilangan di saat mereka dengan teman-teman barunya pergi, tanpaku? entahlah. aku tidak iri. hanya bingung :("


selembar email kuterima pagi ini dari seorang sahabatku nun jauh di sana. sudah beberapa hari ini ia rajin mengirimiku email demi email. mencertikan kehidupan barunya di sana, dan meminta beberapa nasehat dariku mengenai hidup 'mandiri' yang tidak sepenuhnya mandiri. biasanya aku membaca emailnya sambil tersenyum, bagaimana ia kesulitan untuk beradaptasi sama seperti diriku pada awal pindah ke kota hujan ini. lalu aku mulai menjelaskan panjang lebar, memberinya beberapa pemahaman tentang hal itu.

namun kali ini berbeda.
aku tertegun lama membaca emailnya. hatiku sedikit terusik oleh ceritanya. karena aku tau, aku mengalami hal yang sama dengan yang dialaminya saat ini. permasalahan yang tidak kunjung kutemukan jalan keluarnya. kumatikan layar komputerku. lalu aku terdiam. memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dalam hidupku saat ini.

aku kehilangan seseorang.
tidak, bukan seorang, namun beberapa orang. sesuatu yang pada awalnya kukira akan menetap selamanya, namun perlahan-lahan pudar seiring jalannya waktu. kami berjalan sendiri-sendiri. meniti jalan yang berbeda arahnya. bertemu orang-orang baru, yang dirasa lebih cocok, lalu menghilang.
entah apa yang terjadi sebenarnya.

dalam benakku berputar banyak pertanyaan sekaligus
apa yang sebenarnya terjadi? kapan semua bermula? mengapa perbedaan harus menjadi jurang yang memisahkan satu dan lainnya begitu jauh? apa kita memang tidak pernah bisa menerima kekurangan orang lain? mengapa ia lebih nyaman dengan orang lain? mengapa kita mulai merasa benci satu dan lainnya? mengapa kita serasa orang asing saat bertemu? begitu sulitnyakah menerima orang lain apa adanya? begitu tingginyakah gengsi hanya untuk sekedar menyapa?...
dan masih banyak lagi.

hela napas ini serasa berat. kupandangi sebingkai foto kami dulu yang kuletakkan di meja. tanpa terasa tanganku basah. ah, ternyata aku menangis lagi. cengeng. kurutuki diriku. apakah dengan menangis bisa menyelesaikan masalahnya? apa dengan kamu menangis, mereka akan sadar? apa saat kamu menangis saat ini, mereka juga akan menangis? apa mereka memang sayang padamu setulus kamu sayang pada mereka? belum tentu, bukan? 


sepertinya aku mulai terpengaruh keadaan yang ada. setiap hal itu terlintas, selalu ada suara yang mengikutinya lagi. suara-suara yang membisikiku untuk bersikap lebih egois. jika mereka bisa melakukan hal itu, kenapa aku tidak? tidak, aku tidak mau menjadi begitu. itu salah, aku tau. tapi apa yang harus aku lakukan. aku tidak bisa berbuat apa-apa.

maka dari itu aku diam.
dan email yang masuk ke kotak suratku, belum juga kubalas hingga saat ini.
aku tidak punya jawabannya. maaf.

No comments:

Post a Comment

waktu

Waktu selalu membawa cerita Yang tak terkata saat bergelas-gelas kopi menemani Tentang impian masa muda yang konyol Yang terkisah saat panas...