menengadah ke langit dan kurasakan tetesannya jatuh ke wajah
nyaman
tetap berjalan di bawah tudung hujan
payung masih terlipat rapi di saku
tidak akan kugunakan sekarang
"hei"
aku menoleh, terkejut pada siapa yang telah menyapaku
aku terpaku beberapa saat
kamu? apakah ini nyata?
"hey? are you still there?"
tergagap, lalu mulai menjawab
"hai. hujan-hujanan nih?"
"iya, kamu juga. kamu mau ke mana?"
"mau ke sana sebentar" sahutku sambil menunjuk salah satu toko di depan sana
"wah, aku juga"
aku menahan napas mendengar jawabannya
tanpa sadar aku meraba sakuku
dia tiba-tiba berkata
"kamu sadar tidak kalau kita sekarang sudah basah ?"
aku tersentak
berada di sebelahnya membuatku menjadi orang bodoh
"kita berteduh dulu saja bagaimana?" tawarnya sambil membalik badan
kukeluarkan payung hitam di sakuku, dan membukanya
"bagaimana kalau begini?" sahutku sambil tersenyum
ia berbalik dan memandang dengan setengah tidak percaya
"kalau kamu punya payung, kenapa tidak menggunakannya daritadi?"
dengan menggelengkan kepala ia mengambil payung dari tanganku
membawanya untuk memayungiku dan juga dirinya
"begini lebih baik"
ia menatapku dan memamerkan deretan giginya yang seputih salju
aku merasa jantungku berhenti berdetak saat itu juga
udara di sekelilingku terasa berat untuk bernafas
ini begitu dekat
dan nyata
sebuah tangan menyadarkanku dari dunia khayalku
"kita hanya akan berdiri di sini sambil menunggu hujan atau ke sana sekarang?"
ia menggenggam tanganku
mataku menatapnya tidak percaya
wajahku terasa panas
aku hanya diam, menunduk, lalu mengangguk
aku mendengarnya tertawa kecil
"kamu masih tetap sama rupanya"
No comments:
Post a Comment